google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi'

LEBARAN DAN ANGPAO [Semangat Berbagi]



SUBADI

Entah mulai kapan, budaya bagi-bagi angpao saat hari raya Idul Fitri ini dimulai. Seingat saya, setiap kali lebaran, tradisi ini selalu saya jumpai, betul-betul saya rasakan. Sebagai seorang anak kecil menerima angpao dari orang-orang tua terdekat itu sebuah kegembiraan yang luar biasa. Tak pernah memikirkan besar-kecilnya nilai uang yang saya terima. Sekali diberi rasanya sangat senang, saya - juga yang lain- sehabis menerima pemberian itu, selalu membalas dengan ucapan "matur suwun, [terima kasih]". Sebagaimana yang selalu diajarkan Orang Tua, menerima dengan sopan, tidak boleh dibuka di depan yang memberi, masukkan ke dalam saku, dan kalau diberi bilang terima kasih. Itu saja !.

Tak pernah saya memikirkan, tradisi itu -bagi angpao- tujuannya apa. Sebagai anak kecil hanya bisa merasakan kegembiraan, kesenangan dan optimisme untuk selalu bisa bertemu dengan lebaran di tahun-tahun yang akan datang. Saya, hampir tidak menemukan orang tua, terutama orang tua Bapak dan Ibu [ Embah ], saudara-saudaranya, seluruh kerabat Bapak dan Ibu, tetangga, dan famili-famili yang lain, yang luput dari memberi angpao. Bisa dipastikan, sekali bertamu saat ba'dan/silaturrahmi lebaran, mereka selalu memberi angpao kepada saya, juga saudara-saudara yang lain, utamanya yang masih anak-anak. Sungguh peristiwa bagi angpao itu rasanya semakin menyempurnakan kebahagian di hari nan fitri itu.

Ternyata, menerima angpao itu, tidak hanya saya rasakan saat masih anak-anak, bahkan saat duduk dibangku Aliyah saja masih sering diberi angpao, meskipun yang memberi tak sebanyak dulu, setidaknya yang bisa saya ingat adalah, Mbah putri-Mbah Katijah- [ibunya Bapak], pak Rois Amin [adiknya Bapak], Mbok Hj. Martiamah [adik perempuan bapak], Mbokde Tun [kakak perempuan Bapak], Pak Muyakin [ adiknya ibuk], Mbokde Kat [kakak perempuan ipar Ibu saya], dan beberapa yang tidak bisa saya ingat dengan jelas. Ini orang-orang tua yang selalu memberi saya angpao hingga dewasa. Bagiku mereka orang-orang yang hebat, sudah selayaknya saya selalu mendoakan, semoga beliau-beliau itu selalu diberi kesehatan dan rezeki yang barokah. Amin.

Kini, saya sudah berumah tangga, dan mempunyai dua orang putra. Saya sudah mampu berfikir, tentang makna bagi-bagi angpao itu. Bagi saya, tradisi itu bukan lah sesuatu yang negatif, sama sekali tidak. Saya mencoba berfikir untuk memahaminya dari sudut yang positif. Bagi angpao, sekecil apapun nilanya, yang hendak diberikan kepada anak-anak famili itu, adalah bagian dari wujud kasih sayang, persaudaraan, semangat berbagi, manifestasi rasa syukur bisa melewati puasa ramadhan 1 bulan penuh, dan utamanya adalah pelajaran bahwa kita sama sekali tidak boleh melupakan tali keluarga, hingga kapan pun. Sungguh indah, jika kita selalu berfikir positif tentang bagi angpao ini.

Bahkan, di hari Raya Idul fitri ini, jauh-jauh, Nabi Muhammad telah menegaskan, tentang kepada siapa sejatinya zakat fitrah itu musti diberikan, dan tujuannya apa?. Di dalam Kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Maqsud, Karya Ibnu Rusyd,  Jilid 1 bagian Kitab Zakat, fasal v, menyebutkan hadis Nabi yang artinya "Cukupi mereka pada hari ini, Jangan sampai meminta-minta" [H.R. Muslim dan Tirmidzi]. Ini terkandung tujuan, jangan sampai ada orang fakir yang kelaparan di Hari Kemenangan ini, Idul Fitri. Sehingga pesan ini, menjadi salah satu pijakan hukum kepada siapa zakat fitrah hendak diberikan. 

Mungkin hadits tersebut tidak relevan dengan bagi-bagi angpao di saat lebaran. Iya, secara tektual saya sepakat, memang hadits itu, sama sekali tidak diperuntukkan menyikapi bagi-bagi angpao. Secara pribadi, saya hanya mampu berfikir, bahwa Idul Fitri adalah hari dimana seluruh umat muslim -siapa pun itu- berhak dan layak merasakan kebahagiaan paripurna, dan tidak ada yang merasa kekurangan sedikitpun saat itu. Baik pakaian, makanan, dan soal rasa.

Dari sini, pelajaran yang dapat saya ambil adalah, semangat berbagi itu musti kita tunjukkan di hari yang fitri ini, -hari kemenangan- sebiasa yang kita mampu. Berbagi angpao pada sanak saudara, berbagi kepada tetangga yang membutuhkan, berbagi dengan orang tua, dan berbagi kepada siapa saja. Terserah yang kita bisa.

Lebaran kali ini, memang beda dengan tahun-tahun yang lalu, sangat berbeda. Sehingga yang biasanya kita bisa kumpul, bertemu dengan sanak saudara di kampung dan saling berbagi angpao. Kini harus kita tahan dulu, semoga nanti saat yang tepat, rencana bagi angpao kepada sanak saudara bisa terlaksana, alhmdulillah, meskipun tidak banyak, niatan itu sudah ada, dan sudah kita tata sedemikian rupa. 

Tulisan ini, bisa selesai karena ada peristiwa yang menghentak hati. Kira-kira tadi siang, jam 14.00, ada beberapa anak tetangga, ramai-ramai bersepedah, saya amati sambil jalan-jalan di depan rumah, mereka mampir lebaran di beberapa rumah tetangga yang cukup berada, saya lihat orangnya ada, pintunya di buka, mereka permisi masuk dengan suara yang cukup keras, diulang beberapa kali, tapi yang punya rumah tidak kunjung keluar, dan seperti itu terjadi beberapa kali. Mungkin si penghuni sedang berada di belakang, entahlah. Sampailah mereka di depan rumah saya, dan alhmdulillah, mereka saya hentikan. He, mandek sik, mampir sini, jajanku sik akeh [ hai, berhenti dulu, mampir sini, jajanan saya masih banyak], sambut saya. Mereka lantas menjawab, Enngeh Mas, [iya mas], dan kamipun masuk rumah, dan bincang-bincang sambil makan jajan, yang tertata rapi di meja. Mereka sangat sopan-sopan.

Saat itulah, entah kenapa saya teringat, lebaran saya waktu kecil. Dan tak selang kemudian, istri sudah pengertian dengan mereka, satu persatu diberi angpao, mereka hari ini pasti merasa senang, sebagai mana yang dulu saya rasakan. Alhmdulillah, lega sekali hari ini.

Punjul-Karangrejo, 25 Mei 2020.





 

 

    

TAKBIR ADALAH OBAT MUJARAB BAGI KESEDIHANMU


Subadi

Hari ini, Minggu 24 Mei 2020 M, bertepatan dengan 1 Syawal 1441 H, seluruh umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Di tengah masa pandemi Covid-19 yang masih dalam kondisi sangat memprihatinkan, kususnya dapaknya di negeri tercinta Indonesia. Setidaknya 4 hari terakhir,  rilis laporan saudara-saudara kita yang terjangkit nyaris mendekati angka seribu tiap harinya. Sungguh angka yang sangat tinggi, yang tak sebanding dengan jumlah saudara-saudara kita yang sembuh. Angka kematian pun juga terus bertambah jumlahnya. 

Merayakan Idul Fitri, pada situasi seperti ini pasti tidak terasa maksimal. Jujur rasa bahagia itu ada, tetapi pada saat yang sama rasa sedih juga menyelimuti. Saya juga yakin, bahwa rasa seperti itu, tidak hanya saya yang merasakan, tetapi juga saudara-saudara saya yang seiman, Bapak, Ibu, Kakak, Adik, sanak famili, para sahabat dan seluruh umat islam. Karena Idul fitri tahun ini, sangat berbeda dengan tahun-tahun yang lalu.

Lazimnya, Idul Fitri adalah momentum merajut tali silaturrahmi yang tidak hanya mempertemukan hati, tetapi juga pertemuan fisik, kita bisa menatap, berjabat tangan, bahkan kesempatan spesial untuk berpelukan dengan orang-orang yang kita sayangi, Bapak, ibu dan saudara-saudara kita. Idul Fitri hari ini, tak sedikit seorang anak ada yang tidak bisa -dilarang- bertemu langsung dengan orang tuanya dan keluarganya, sebab dilarang mudik dan karena hal lainnya. Mereka hanya bisa  berjumpa, sebatas melihat gambar dan suaranya saja, dari smartfon yang dimiliki. Hari ini yang bisa bertemu langsung, bagi saya adalah sebuah keuntungan yang musti disyukuri, karena banyak saudara-saudara kita yang lain, yang saat ini tidak bisa merasakan bahagianya bertemu langsung dengan Bapak dan Ibunya, sampai sanak familinya. Bersyukurlah.

Saya pribadi, semenjak jauh dari orang tua, mulai tahun 2001 hingga kini, setiap kali Idul Fitri, sesibuk apapun selalu merayakannya di kampung halaman. Selalu pulang kampung, 2/3 hari sebelum lebaran tiba. Kehadiran kami -saya dan saudara kandung- yang tinggal di luar kota itu, sangat dinanti-nanti oleh Bapak dan Ibu. Ini selalu saya sadari sebagai bagian dari wujud bakti kepada kedua orang tua. Ya, memberikan kegembiraan dan kesenangan, sekecil apapun bentuknya.

Kehadiran kami, sungguh tidak hanya hal kegembiraan bagi Bapak dan Ibu, tetapi memang ada tuntunan dari Bapak dan Ibu, yang selalu istiqamah dikerjakan. Tuntunan itu adalah tentang kebiasaan ziarah makam, membersihkan makam dari ilalang,  dan berdoa,  sebelum kita masuk pada hari Idul Fitri, kita selalu diajak ziarah ke makam Orang tua Bapak dan Ibu, serta beberapa saudaranya yang sudah menghadap Allah  lebih dulu, Mereka adalah, Mbah Imam Syafari [ayahnya Bapak],  Mbah Katijah/Kotijah [ibunya Bapak], Mbah Sukimin [ayahnya Ibuk], Mbah Usrek [Ibuknya Ibuk], Mbah Tuminah [Orang tua asuh Bapak dan Ibu, ia tidak punya anak, yang saat ini tanahnya menjadi tempat tinggal orang tua saya], dan Mbokde Musriah [kakak perempuan bapak].  

Menziarahi makam-makam itu, sugguh tak pernah kami tinggalkan, utamanya saat mau masuk bulan ramadhan, dan menjelang Idul Fitri. Saya bisa bersaksi bahwa Bapak adalah orang yang sangat memperhatikan mereka, sekalipun mereka telah meninggal dunia,  itulah bagian dari wujud  birrul walidain Bapak kepada orang tuannya. 

Idul Fitri hari ini, kesedihannya begitu terasa, apalagi saat mendengarkan kutbah shalat Id di masjid tadi pagi, kutbah yang disampaikan Kyai muda itu [Gus H. Geby - Putra ke Tiga Guru saya K.H. Sirojudin Hasan, Alm,] memberi makna yang sangat dalam, hingga menyentuh lubuk hati saya yang paling dalam, kutbah yang sarat akan makna tujuan puasa, tantangan kita setelah puasa, dan sampai peran serta berbakti kepada orang tua. Terimakasih ya Allah, hari ini Engkau luluhkan hati yang rapuh ini, sehingga air mata pun bercucuran. Allah, Allah, Allah, Ampuni dosa-dosa hambamu yang lemah ini, [saat saya menulis paragraf inipun, cucuran air mata itu, terus membasahi pipi saya].

Saya sadar, karena sedikit pengetahuan yang saya miliki, saya masih mampu berfikir. Inna ma'al 'usri Yusra, setiap kesedihan pasti ada kegembiraan yang menyertai, setiap rasa takut menghantui pasti ada keberanian yang menyertai, di setiap kesempitan yang menghimpit pasti ada kelapangan yang menyertai, di saat sakit sedang mendera pasti ada obat yang bisa menyembuhkan, dan lain sebagainya. 

Takbir [Allahu Akbar], Allah Maha Besar, hari ini telah mengajari kita, sekaligus mengingatkan kita akan makna dan hikmah cinta yang hakiki. Bertakbir pada hakikatnya kita telah mengagungkan Zat Yang Maha Agung, Yang Mah Besar. Seorang hamba yang melantunkan Takbir, sejatinya ia sedang mendeklarasikan diri dihadapan Tuhannya akan kekerdilannya sebagai hamba, akan kelemahanya sebagai makhluk yang diciptakan, dan sebagai bukti bahwa seorang hamba adalah sangat kecil dibanding ke Maha BesaranNya. Sekalipun lantunan takbir yang digaungkan itu, tak semerdu takbirnya penyanyi qosidah dan takbirnya para Qori' Internasional. Takbir adalah Takbir, semua takbir akan bermakna asal diiringi dengan niat tulus, ketundukan, dan kepasrahan. 

Hari ini, bagi saya takbir adalah obat mujarrab, yang dapat menyembuhkan luka kesedihan di hari yang fitri ini. Takbir telah mengingatkan kita, agar kita tidak terus berlarut dalam kesedihan itu, -karena tidak bisa berjumpa secara fisik dengan orang tua, sanak famili dan teman-teman di kampung halaman- . Dengan Takbir, sesungguhnya kita musti ingat, bahwa kesedihan itu sejatinya tidak berarti apa-apa, bahkan hal yang remeh-temeh di hadapan Allah Ta'ala. 

Yang musti kita renungkan adalah, bagaiamana kita kelak di akhirat bisa berjumpa, saling tolong-menolong dengan orang-orang yang kita cintai itu. Hari ini kita memang tidak bisa bertemu secara fisik, hanya sebatas perjumpaan jarak jauh melalui smartfon kita. Tetapi yakinlah cinta kita kepada mereka, saat ini bukan malah kecil atau surut, akan tetapi rasa cinta itu kian terasa besar dan agung. Percayalah, itulah hikmah di balik  kesedihan hari ini.

Seraya berdoa kepada Allah, semoga kelak di akhirat kita dipertemukan dengan orang-orang yang kita cintai [Ayah, Ibu, Saudara kita, famili kita, sahabat kita, dan tentu Guru-guru kita].

Amin. Amin. Amin.

Punjul-Karangrejo, Minggu 24 Mei 2020 







 

TAKBIR KEMENANGAN 1 SYAWAL 1441 H




Subadi

Malam ini, seluruh negeri gemuruh dengan kumandang takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akabar, wa Lillahil Hamdu. Sebagai tanda berakhirnya bulan suci ramadhan sekaligus dalam rangka menyambut bulan baru, yakni bulan Syawal. Semua umat muslim berbahagia hari ini, bahagia karena bisa melewati masa-masa latihan menata hati, melawan hawa nafsu, dan berlatih taqarrub billah. Satu bulan penuh, semua umat muslim yang taat melaksanakan ibadah puasa serta qiyamul lail - Taroweh, Tadarrus, Zikir, Tahajud, Iktikaf dan lain sebagainya- . Semua dikerjakan dengan hati yang riang dan penuh kesungguhan. Menunaikannya semata-mata sebagai manifestasi ketaatan seorang hamba  kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Terlepas dari keadaan yang serba terbatas saat ini, akibat pandemi Corona, dengan penuh kesadaran seluruh umat muslim yang taat, mampu melewati masa latihan satu bulan itu - Ramadhan- dengan suka dan cita. Masa pandemi tidak harus menjadi penghalang untuk menjalankan puasa dan seluruh ibadah yang mengiringinya. Sebagian ada yang menjalankan tarowih di rumah masing-masing, dan sebagian yang lain ada yang menjalankannya di musolah dan masjid. 

Berlarut meratapi masa pandemi bukanlah sesuatu yang baik. Yang terpenting adalah, tetap berusaha bersyukur kepada Allah, bahwa kita masih diberi kekuatan dan kesempatan  untuk berlatih selama satu bulan itu, meskipun tak harus kita kerjakan di musola atau masjid. Karena sejatinya rumah kita adalah surga kita di dunia, sehingga rumah-rumah pun sangat layak sebagai tempat kita bertasbih dan bersujud kepada Allah SWT. Saat-saat seperti ini, sebebarnya juga sedang mengingatkan kepada kita akan fungsi rumah, yakni rumah sebagai tempat sujud dan beribadah. Tidak hanya  sebatas tempat singgah dan merebahkan badan semata. 

Sebagaimana yang sering kita ketahui, bahwa tujuan utama dari puasa adalah agar kita sekalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Taqwa adalah derajad yang tinggi di sisi Allah SWT. Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang menjadi "Pemenang" di sisiNya. Orang yang menang bagi Allah adalah mereka yang berhasil menjalankan semua perintahNya dan berhasil menjauhi segala laranganNya. Sungguh derajad ini hanya bisa dicapai oleh mereka yang mempunyai keimanan yang kokoh serta mendapat curahan pertolongan Allah SWT. Pemenang itu, mereka-mereka yang sebenarnya sedang dihendaki baik-khair- oleh Allah SWT. Sungguh beruntung menjadi pemenang.

Satu bulan penuh itu, kita -muslim taat- berlatih memerangi hawa nafsu kita. Mengendalikan segala keinginan duniawi yang fana'. Mengendalikan segala bentuk kemaksiatan- durhaka- kepadaNya, baik durhaka lisan, tangan, kaki, perut, akal, dan hati kita. Puasa yang hakiki, yang dikehendaki oleh Allah, tidak hanya cukup menahan lapar dan dahaga saja, tetapi jauh dari itu juga harus mampu mengendalikan segala bentuk keinginan nafsu, yang dapat merusak esensi puasa itu sendiri. Karena, meskipun kita mampu melewati 1 hari penuh itu dengan lapar dan dahaga, tetapi tidak mampu mengendalikan nafsu kita, dapat dipastikan puasa dan ramadhan itu tak akan bermakna apa-apa kecuali hanya rasa haus dan lapar, bahkan kelelahan semata.

Ramadhan adalah bulan berlatih. Jika saat berlatih saja kita tidak berhasil, maka dapat dipastikan tatkala bertarung di medan perang, kita tidak akan sanggup menaklukkan lawan kita. Lawan kita bukanlah bala tentara bergajah, bukan pula pasukan bermisil lengkap, lawan kita yang sesungguhnya adalah hawa nafsu kita sendiri, lawan kita adalah diri kita sendiri. Hakikatnya musuh sejati kita adalah hawa nafsu kita sendiri. Nafsu-nafsu yang mengajak kita untuk semakin jauh dari Allah SWT. Meninggalkan mengerjakan segala bentuk ketaatan, seperti  shalat, zakat,  thalabul ilmi,  dan amal saleh lainnya. Serta mengajak kita untuk selalu  berdusta, berkata kotor, menggunjing sesama, iri hati, dengki, sombong, dan segudang bentuk prilaku tercela lainnya. Itulah pernak pernik senjata nafsu yang sedang kita hadapi. 

Medan perang kita sesungguhnya adalah hari-hari setelah bulan Ramadhan ini. Makanya saat idul fitri, biasa kita kenal dengan kembali fitri dan menyongsong kemenangan - Minal Aidin Wal Faizin- . Di situlah kita akan diuji oleh Allah, apakah hasil berlatih kita itu mampu menaklukkan musuh kita, -yakni nafsu kita- atau tidak. Dalam hal ini Allah telah memberi petunjuk ciri-ciri Pemenang yang sesungguhnya. Saya secara pribadi selalu berdoa, semoga kita semua mampu menaklukkan nafsu kita, sehingga kita layak menerima predikat sang Pemenang, yang tak lain adalah bagian dari manifestasi ungkapan -Al-Faizin- itu sendiri.

Dalam hal ini, Allah telah menegaskan dengan jelas, siapakah mereka yang menjadi Pemenang itu. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam firman Allah SWT Surat Ali Imron, ayat 133 sampai 135. Mari kita tengok bersama-sama, Setidaknya ada 6 ciri-ciri Pemenang menurut ayat tersebut; 

1] Pemenang adalah mereka yang menjadi harapan surga, karena selalu berusaha betaqwa.
2] Pemenang adalah mereka yang mau menginfakkan hartanya di kala lapang dan sempit.
3] Pemenang adalah mereka yang mampu menahan amarahnya.
4] Pemenang adalah mereka yang selalu memberi maaf kepada sesama.
5] Pemenang adalah mereka yang bila melakukan dosa segera mohon ampun kepada Allah.
6] Pemanang adalah mereka yang tidak meneruskan berbuat dosa takkala mereka tahu bahwa itu dosa.

Sungguh, selain ayat tersebut masih banyak ayat Al-qur'an yang megajarkan kita akan ciri-ciri Pemenang. Dengan senantiasa memohon kepada Allah, semoga ibadah kita, latihan kita di Ramadhan ini, dapat berhasil dan mampu menaklukkan hawa nafsu kita selama satu tahun yang akan datang, mungkin juga selamanya. Amin.

Punjul, Karangrejo.  23 Mei 2020

CATATANKU HARI INI


Subadi

Hari ini, Kamis 21 Mei 2020, rasanya saya harus memberi maaf pada keinginan saya sendiri, ternyata ada  satu rencana yang belum terselesaikan sebagamana harapan. Ya, rencana menyelesaikan tulisan yang gugusan idenya sudah saya coba tulis di blog pribadi. Dan kini ternyata hanya bisa sampai tersimpan di draf blog saja. Tak jadi masalah, saya yakin hari esok masih ada kesempatan yang lebih baik untuk menyelesaikannya. Saya harus memaafkan diriku sendiri. Mohon Maaf.

Pagi-pagi sehabis santap sahur berasama istri tercinta, biasa kami menunggu waktu subuh tiba, sambil membaca buku kesanyangan, saya tetap terjaga. Alhmdulillah, masih diberi kesempatan untuk shubuh-an berjamaah. 

Sehabis shubuh seperti biasa, kita menyempatkan nderes al-Quran, beberapa halaman bisa kita lampauhi, semuanya semata-mata berkat pertolongan Allah Ta'ala. Terima kasih ya Allah. Kesempatan yang ada saya manfaatkan untuk melanjudkan membaca buku sembari bersandar di kursi kayu kesayangan, kira-kira se jam lamanya.

Tiap pagi saya ditemani ocehan burung di rumah, sungguh merdu. Mohon maaf saya dari kecil memang pecinta burung, kesenangan itu terbawa sampai saat ini. Kini burung yang saya pelihara ada Kacer, Anis Kembang [endemik asli indonesia], Cucak, dan dua burung bekutut yang sangat istimewa. 

Sedikit bicara soal burung, semua burung-burung yang saya pelihara itu punya keunikan sendiri-sendiri. Dua burung kutut itu sebenarnya masih muda, kini usianya kisaran 1 tahunan. Semuanya burung lokal, bukan jenis bangkok atau yang lain. Yang satu manggung tiap kali mendengar adzan shalat, ia secara langsung ikut manggung, tiap kali manggung selalu tiga kali angkatan, dalam satu irama. Meskipun jenis lokal suaranya cukup kuat dan tegas.

Kemudian, Kutut yang ke dua, mempunyai karakter yang bebeda dengan temannya itu, saat mau manggung dia tak mengenal waktu, mau manggung kapan pun bebas, dia sangat perhatian sama saya, sekali saya dekati akan segera menyapa. Anggungan-nya pun tak bisa dipastikan, kadang keluar irama suara lemah kadang keluar alunan suara yang cukup merdu. Ada yang bilang angkatan suaranya adalah Klaooooo. Kira-kira demikian.

Itu saja soal burung, hehe.
Aktivitas hari ini, tak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah, ada beberapa hal yang menjadi tema kegiatan hari ini, melayani wali murid, dan yang cukup intens adalah diskusi kecil membicarakan agenda Madrasah ke depan, hari ini semua saya bicarakan dengan pak Guru bagian kurikulum dan operator Madrasah, tentang PPDB, KBM, administrasi, dan banyak hal lainnya. 

Sehabis shalat taroweh, waktu yang ada saya pergunakan untuk menarasikan gagasan-gagasan hasil diskusi siang itu, hingga larut malam. Saya jabarkan sampai 6 halaman. Hal seperti ini selalu saya biasakan, setiap kali selesai rapat dengan Guru-guru, saya selalu catat ulang dalam bentuk narasi sesuai apa yang menjadi topik pembahasan rapat. Setelah selesai selalu saya kirim kepada Guru-guru yang saya banggakan itu. Sebagai pengingat dan memudahkan bekerja di sekolah.

Alhamdilillah, tepat jam 01.00 dini hari, jabaran diskusi yang saya beri nama "Langkah KBM MI Ke Depan" itu bisa saya selesaikan. Saat itu pula, langsung saya kirim ke WA group Dewan Asatidz MI TarBoy.

Dan tulisan ini, sebagai ganti tulisan yang belum maksimal yang tersimpan di draf blog itu tadi. Mohon maaf.

Punjul-Karangrejo, 22 Mei 2020.


ALAM SEDANG TIDAK BERSAHABAT



Subadi

Sejak kemunculan wabah virus Corona -Covid 19- dari Wuhan, Tiongkok, Desember 2019 lalu, yang sampai sekarang masih eksis hingga masuk di gang-gang perkampungan. Dunia terguncang, manusia gagap, negara gagap. Padahal bukan pertama kali dunia mengalami wabah maupun bencana. Tapi ini rasanya begitu menyengat hingga masuk ke sendi-sendi kehidupan, mengoyak dan melumpuhkan.

Pandemi ini bisa jadi cara bumi meminta perhatian kita, seolah bumi menjerit "Tolong berhentilah sebentar saja dari caramu berbuat kerusakan atasku !! ", berhentilah se-jam saja, berikan aku waktu untuk sedikit bernafas dan kesempatan bagiku untuk memulihkan sakit ku yang begitu dalam ini !! ", teriak bumi, keras sekali, hingga tak luput setiap telingan manusia mendengarkanya. Buktinya, saat ini semua sadar bahwa bumi sedang tidak dalam keadaan normal dan sehat. Semua merasakan, bahkan manusia yang lurus dan selalu bersahabat dengan bumi pun merasakan.

Kita sering lupa, akan peran kita sebagai Khalifah fi al-Ardh di muka bumi ini, kita punya peran dan tugas merawat dan menjaga bumi. Iya, tahu kita diperintahkan oleh Allah untuk makan dan minum di muka bumi ini. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah kita " dilarang" bertindak berlebihan, sehingga terjadi kerusakan dan ketidak seimbangan dan keselarasan di bumi ini. Sungguh berlebihan itu bukanlah fitrah kita sebagai manusia.

Santer, pemberitaan di TV dan juga Youtube, bahwa virus ini berasal dari kelelawar, yang saat itu ahli satwa pun ikut berkomentar, "jangan merusak ekosistem asli satwa, apalagi mengkonsumsinya, karena kita belum tahu apa yang mereka bawa" begitu kira-kira menanggapi berita yang beredar. 

Memang benar, kata ahli -simak saja di youtube- bahwa kelelawar menjadi inang setidaknya ada 60 macam jenis virus - termasuk coronavirus-. Habitat asli kelelawar seperti yang biasa kita ketahui adalah di goa-goa. Sebagian manusia telah merusak habitatnya, memburu satwa liar itu, kemudian memakannya berarti sama saja dengan membuka peluang runtuhnya benteng ketahanan manusia. Karena setiap dari virus itu butuh inang, dan inang yang layak dan tepat hanyalah satwa liar, sama sekali bukan manusia.

Kita membalak pohon dengan liar, merusak hutan, membidik satwa apapun jenisnya adalah bentuk keserakahan yang musti ditinggalkan. Ternyata tidak berhenti sampai di sini sahabat, Coba tengok -ngeri- baik di youtube dan beberapa tayang di TV, ada pasar kusus yang memperjual belikan hewan-hewan liar [tikus, ular, anjing, babi, kelelawar, kalajengking, kucing, biawak dkk], saya melihatnya bisa merinding, tak habis pikir, begitu kejamnya, belum cara mereka membunuh sebelum di masak, sungguh keji. Tapi saya sadar, itulah kehidupan, sungguh lengkap. Mereka tak sebatas cukup mengoyak habitatnya saja, tetapi satwa-satwa malang itu ternyata diperjualbelikan untuk menjadi makanan yang katanya sangat lezat dan penuh tantangan. Sungguh gila.

Itulah kiranya, menjadi sebab virus kehilangan rumah alamiahnya. Mereka -virus  itu- mencari rumah -inang- baru, dengan cepat bertransmisi ke tubuh manusia. Kayaknya, di sini virus itu lebih nyaman untuk berkembang biak sekaligus menunjukkan eksistensinya. Mereka tak hanya cukup meminjam tubuh manusia sebagai inangnya, tapi juga merenggut ribuan nyawa, entah sampai berapa yang akan gugur diserangnya. Mungkin hanya dengan itu cara mereka untuk "penyadaran" akan keserakahan manusia. Allah yang lebih tahu.

Fenomena ini kenyataannya sudah terlanjur, dan hanya menyisakan ruang untuk berfikir dan bertindak, bagaimana cara mengendalikan dan memutus serangan virus itu. Semua kekuatan telah dikerahkan dan tak tanggung-tanggung. Yang terpenting hanya keselamatan jiwa manusia. Segala aktivitas berhenti, pun berjalan dengan cara yang berbeda tak seperti biasanya. 

Barangkali pesan yang dapat kita sepakati bersama adalah kita harus berdamai dan memperbaiki hubungan dengan alam. Sudah saatnya kita harus banyak memohon ampun kepada Sang Pemilik Alam [Allah al-Khaliq]  dan memperbaiki cara hidup di bumi ini. Tidak hanya untuk mencegah virus corona namun juga untuk mencegah dan meminimalkan bencana lainnya seperti kebakaran, banjir, longsor, abrasi, dan lain sebagainya. 

Punjul,  Karangrejo,  20 Mei 2020


 



IBADAH SEPANJANG HAYAT



Subadi

Pagi ini udara terasa dingin, kesejukannya tak seperti hari-hari sebelumnya. Apakah memang karena pengaruh cuaca, yang hampir semalam langit menurunkan hujan, meskipun tidak deras. Pagi-pagi saat waktu shubuh tiba pun hujan rintik-rintik masih terus menyirami bumi sekitaran rumah, kayaknya satu kampung sama-sama tersiram hujan rahmat ini. Apapun yang telah Allah turunkan kepada umatnya berprasangka baik atas kehendakNya adalah suatu keniscayaan. Karena hanya Dia lah sebenarnya sebaik-baik penentu keputusan.

Di saat seperti ini, tiada kata yang lebih indah dan tepat terucap dari seorang hamba kepada Sang Pencipta selain untaian kata "Alhamdulillah" - segala puji bagi Allah-  sebagai wujud syukur kepadaNya. Meskipun demikian sebagai hamba yang baik, melantunkan syukur kepadanya tidak harus menunggu keadaan lapang dan bahagia. Syukur musti terus kita persembahkan di saat dan dalam keadaaan bagaimanapun, mau lapang, mau sempit, mau susah, jangan sampai luput dari syukur. Syukur adalah  wujud kesadaran kita akan anugerah yang telah diberikan olehNya, yang tak terkira itu, kesehatan dan keimanan.  

Hari ini rasanya pikiran kering akan ide, ingin nulis tentang apa. Tak kunjung muncul ide yang sesuai dengan hati nurani. Memang ada beberapa gugusan ide untuk saya tulis, tetapi tidak begitu klik di hati. Sehabis subuh seperti biasanya waktu istimewa itu saya gunakan untuk membaca al-Qur'an beberapa ayat, tak pasti, kadang 1 lembar, kadang juga lebih. Yang terpenting sesalu saya sempatkan. Saya selalu meyakini bahwa membaca al-Qur'an adalah bagian dari ibadah, entah tahu akan maknanya atau tidak, selain pahala yang didapat, pembacanya akan menemukan hikmah dan manfaat yang luar biasa. Apalagi jika dikerjakan secara istiqamah. Laisal karomah illa bil istiqamah [al-Ghazali]. Tiada kemuliaan tanpa sebab istiqamah. Kegembiraan, kemudahan, dan kemuliaan. 

Alhamdulillah, di saat-saat membaca al-Qur'an menemukan ayat "wa'bud rabbaka hatta ya'tiyakal yakin" surat al-Hijr ayar 99. Yang kurang lebih artinya; dan sembahlah Rabmu sampai datang kepadamu apa yang diyakini [ajal]. Ayat ini mendorong hati untuk menulis tentangnya. Ayat yang secara langsung berisi perintah untuk beribadah kepada Tuhan, yaitu Allah SWT. Sepanjang hidupnya seorang hamba hendaknya senantiasa beribadah kepada Allah SWT, tanpa putus-putus.

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa perjalanan menuju Allah SWT tidak mengenal batas akhir. Saat di dunia, sudah dapat di pastikan secara empirik setiap manusia yang beriman selalu beribadah kepadaNya dalam bentuk yang bermacam-macam, seperti shalat, puasa, berdoa, haji, bersujud dan bentuk persembahan lainnya. 

Bentuk ibadah manusia kepada Allah, pada kenyataannya tidaklah berhenti saat hidup di dunia saja, karena di setiap persinggahan -etape- dalam rangka meniti jalan menuju tempat keabadian -akhirat- itu manusia sesalu bersinggungan dengan ibadah kepada Allah. Kenyataan ini musti dipahami oleh seorang hamba tatkala masih hidup di dunia. Sehingga ia sesalu berusaha mempersiapkan diri dengan mengumpulkan bekal berupa amal ibadah demi sukses meniti jalan menuju Rabnya.

Saat berada di alam Barszakh, manusia mempunyai bentuk ibadah tersendiri, yaitu tatkala Malaikat bertanya kepadanya; Siapakah yang engkau sembah dan apa yang engkau katakan kepada Rasulullah Muhammad ? ini adalah bentuk ibadah yang jawabannya ditunggu oleh Malaikat.

Bahkan, pada hari kiamat pun, manusia masih melakukan ibadah, yaitu saat-saat di mana Allah SWT menyeru kepada semua makhluk untuk bersujud. Maka beruntunglah bagi setiap manusia yang saat hidup di dunia selalu membiasakan diri dengan terus beribadah kepada Allah, membiasakan diri bersujud kepadaNya. Karena ketika mendengar seruan Allah di akhirat itu, mereka yang beriman kepadaNya akan bersujud dengan penuh ketaatan. Berbeda dengan mereka yang tatkala di dunia enggan bersujud -beribadah- sudah dapat dipastikan mereka akan mengabaikan perintah Allah itu, sungguh celaka. 

Ketika manusia berada di surga atau di neraka, maka tidak ada lagi kewajiban selain hanya bertasbih yang dilakukan bagi penghuni surga. 

Beribadah kepada Allah tidak boleh terputus, apalagi merasa sudah telah sempurna dalam menempuh perjalanan hidup dan ibadahnya. Semua orang tahu bahwa menjalankan perintah Allah tidaklah mudah. Menjalankannya, pasti membutuhkan niat yang kokoh dan komitmen yang kuat. Tanpa itu mustahil akan bisa menjalankan ibadah dengan istiqamah. Hanya orang-orang yang berserah dirilah yang akan selalu mendapatkan bimbingan dan pertolongan Allah, sehingga ia mampu menggerakkan tubuhnya dalam rangka beribadah kepadaNya.

Oleh karena itu, kita musti menyadari akan posisi kita di hadapanNya, kita adalah hamba dan Dia adalah Sang Khaliq, yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini, kita sebagai hamba sudah selayaknya patuh dan tunduk kepadaNya. Toh, semua itu, sebenarnya demi kebaikan hidup kita di dunia dan di akhirat. Ibadah adalah kebutuhan kita sebagai makhluk. Jika, kesadaran ini yang tumbuh maka seberat apapun bentuk ibadah itu, kita akan berusaha dengan sekuat tenaga menjalankannya. Tanpa rasa mengeluh apalagi menyesalinya.

Semoga kita semua, termasuk orang-orang yang diberi kemudahan dalam meniti jalan menuju Allah SWT. Amin.

Punjul-Karangrejo, 20 Mei 2020
 

CACATAN SAYA HARI INI. MANA PUNYA KAMU?


Subadi

Puji syukur alhdulillah hari ini saya masih diberi kesehatan oleh Allah SWT. Keadaan yang sama semoga juga menyertai anda semua, amin. Sebenarnya, hari ini saya sudah menyelesaikan 1 buah tulisan, sebagai wujud rasa syukur dan menjaga konsistensi menulis, penuh perjuangan untuk menyelesaikannya. Rasa bahagia menyeruak jika setiap kali menulis bisa selesai, sesederhanapun tulisan itu.  

Seperti biasanya tulisan yang baru jadi selalu saya unggah di facebook, WA group, dan selalu menghiasi status Wa. Ini saya lakukan dengan senang hati, sukur-sukur ada yang menyempatkan membaca sehingga ada yang terinspirasi dan terdorong berbuat kebajikan. Sesedehanapaun tulisan yang saya buat, selalu saya usahakan ada muatan dorongan kebajikan, meskipun hanya setitik. Hanya satu harapan semoga saya juga bisa bermanfaat untuk sesama, sekecil apapun kebajikan itu.


Setiap kali selesai menulis, terkadang juga saya kirimkan kepada teman dekat, tentu tidak sembarang teman saya kirimi, hanya beberapa segelintir saja. Ya, teman yang biasa saling memberi motivasi. Saya sangat bersyukur memiliki teman yang seperti ini, karena dengannya, yang ada hanya saling mengingatkan, saling menghargai, dan saling mendukung.  Teman yang seperti ini dapat dipastikan  tidak pernah risih dengan kiriman tulisan-tulisan saya. Toh, juga sebaliknya jika ia selesai membuat tulisan, sering juga mengirimkanya kepada saya secara pribadi. Bagi saya,  ini yang namanya teman sejati, saling memuji dan tak pernah memaki.

Berbeda dengan kemarin, hari ini ada aktivitas yang musti saya selesaikan di sekolah, sekitar jam 08.00 saya berangkat, sampai di sekolah sekitar jam 09.00, seharusnya jika langsung menuju sekolah setidaknya jam 08.30 saya sudah sampai. Tetapi karena ada kepentingan lain yang harus saya selesaikan di tengah perjalanan menjadikan waktu sampai di sekolah relatif lama, sejaman.

Saat di sekolah, saya mulai membuka laptop dan mengumpulkan kiriman LapKin Guru selama mengajar seminggu yang lalu, pekerjaan ini harus segera saya selesaikan karena hendak saya kirim ke Operator WFH Kemenag Tulungagung. Sepertinya banyak lembaga yang sudah mengirim LapKin guru maupun kepala madrasah. Menunda-nunda pekerjaan bukanlah kebiasaan yang baik, sebisa mungkin setiap tugas harus selesai tepat waktu, meskipun berat dan butuh komitmen yang kokoh. Karena karakter seseorang akan terbentuk dari kebiasaan-kebiasaannya. Jika biasa tepat waktu, maka ia akan selalu berusaha tepat waktu, jika ia suka terlambat maka ia akan sering terlambat dan lain sebagainya, silahkan dikembangkan sendiri. Ini perlu direnungkan.

Sehabis, mengerjakan tugas, saya coba membuka blog pribadi, dan kayaknya jari saya ingin menari-nari di atas Keybord, apalah daya saya mencoba menuruti keinginannya. Ya tulisan inilah hasilnya, Semoga ada manfaat. Amin.

Boyolangu, 19 Mei 2020

Gara-Gara Menulis


Subadi


Ada satu kalimat yang coba saya pegangi "Membaca dan menulis itu memiliki energi besar untuk merubah hidup kita" [ The Power of Writing, hal.20], Kalimat ini saya coba renungkan, saya resapi dalam-dalam dan kemudian saya tanamkan di bagian otak saya. Saya hafal sungguh dengan kalimat itu.

Menulis itu ragamnya sangat banyak, tetapi di sini yang saya maksud adalah menulis dalam arti sesungguhnya, bukan asal menulis. Secara pribadi saya tidak terlalu tertarik menulis menggunakan kata dan bahasa yang sulit dipahami oleh halayak, meskipun itu tidak salah. Karena karakter menulis itu juga beragam dan sifatnya subyektif. Mungkin ini kecenderungan saya yang lebih memihak pada kata-kata yang sederhana, tidak rumit. Saya lebih menyukai membaca bahan bacaan yang mudah dipahami, yang terpenting pesan yang hendak ditawarkan itu bisa dengan mudah  dicerna dan ditangkap maknanya.

Dalam konteks ini, agaknya tulisan yang saya hasilkan pun sarat akan kesederhanaan kata. Sekali lagi, ini bagi saya pribadi, belum tentu bagi orang lain. Kecenderungan seperti itu saya nikmati dengan setulus hati. Saya berusaha enjoy dengan aktivitas belajar menulis ini. Sebenarnya, sampai saat ini aktivitas belajar olah kata yang saya jalani  nyaris baru genap 1 bulan, tetapi meskipun umurnya masih seumur jagung, ibaratnya. Ternyata banyak hal positif yang terus saya rasakan. 

Ah, rasanya tidak penting berdebat soal pilihan kata, itu murni hak setiap penulis, dan sah-sah saja. Yang terpenting adalah berusaha terus menulis dan menulis. Karena menulis dengan sungguh-sungguh penulis akan selalu diiringi energi positif dan efek luhur lainnya. Jika di atas ditegaskan "menulis memiliki energi besar" dalam hal ini saya dengan lapang menerimanya, sungguh. Mengapa? karena dalam proses menulis sendiri sebenarnya kita membutuhkan energi yang sangat besar. Sehingga tanpa tekat yang kokoh dan usaha yang sungguh-sungguh tidak mungkin akan dihasilkan sebuah tulisan, sekalipun tulisan itu sangat sederhana. Dari sini dapat dipahami bahwa tidak berlebihan jika dikatakan "menulis itu memiliki energi besar untuk merubah hidup". Tinggal kita mau melakukannya atau tidak. 
 
Beberapa menit yang lalu, ide itu muncul seiring obrolan di group WA Ma'arif Menulis. Oh, entah dari mana dorongan itu muncul, keinginan menulis dengan judul "Gara-Gara Menulis". Gugusan ini sebenarnya ide sederhana, bermula dari efek yang ditimbulkan dari aktivitas menulis yang saya rasakan. Saya juga bisa pastikan teman-teman Penulis pemula yang lain, saat menulis - dalam arti yang sesungguhnya- juga akan merasakan hal yang sama. Sama-sama merasakan efek positif yang menyertai aktivitas menulis itu.

Gara-gara menulis, saya menjadi terdorong untuk lebih giat belajar, terutama membaca. Ternyata betul apa yang tertulis di buku "The Power of writing" [Penulis yang tidak mau membaca tidak akan mampu menulis secara baik dan mendalam, hal.,13]. Meskipun saya merasa bodoh, saya terus mensyukurinya, gara-gara ini saya musti lebih giat lagi belajar dan belajar. Karena jika kita mempunyai semangat menulis tanpa disertai membaca yang kuat, selain kita kebingungan ide yang akan ditulis dan minimnya pembendaharaan kata yang kita miliki,  juga bisa berpengaruh pada kejujuran dalam menulis, bisa jadi penulis akan mengambil langkah plagiasi/mengambil tulisan orang lain dan diakui sebagai tulisannya, ini bagi saya sangat merugikan. Sesederhanapun tulisan kita, jika itu hasil dari kerja keras sendiri akan sangat bermakna.

Gara-gara menulis, banyak waktu luang yang menjadi mutiara. Bagiamana tidak, ketika aktivitas menulis sudah menjadi kebiasaan,  rasanya sangat rugi jika ada waktu yang terbuang sia-sia, apalagi habis untuk hal yang kurang berfaidah. Saya katakan mutiara, bagi saya bukanlah hal yang berlebihan, karena dengan menulis sebenarnya kita juga sedang belajar, dan belajar itu adalah kewajiban sebagai muslim. Jadi menjilmakan waktu luang menjadi waktu belajar adalah mutiara yang sangat berharga dan bernilai ibadah, bukankah setiap aktivitas itu tergantung pada niatnya? tentunya iya. Dan agaknya semua orang sepakat dengan pemahaman ini. 

Gara-gara menulis, saya jadi berfikir untuk menyisihkan sebagian uang yang saya miliki untuk membeli buku, bukan hanya habis untuk keperluan yang lain.  Bagi saya membeli buku bukanlah hal negatif, sama sekali tidak. Membeli buku untuk kita baca dalam rangka belajar dan menambah wawasan adalah hal yang sangat positif, apalagi bagi orang yang meniti dunia olah kata, tentu membaca buku adalah suatu keniscayaan yang musti terus tekuni. Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Dengan membaca buku yang banyak dan bermutu akan memungkinkan penulis tidak akan kekeringan ide menulisnya.

Gara-gara menulis, anak-anak di rumah sering bertanya, yah... Sampean kok kerja wae ? [yah kamu kok kerja saja?], ini saatnya memberi teladan dan motivasi kepada anak-anak. Meskipun sering mengganggu aktivitas kita menulis, suasana seperti ini sangat bermanfaat buat anak-anak kita, setidaknya dia selalu melihat buku, memegang buku, sering bertanya tentang buku, bertanya tentang apa yang kita tulis, dan sesekali juga membaca buku yang kita sanding. Hanya harapan semoga kelak menjadi pribadi yang lebih baik dan ahli ilmu. Amin.

Gara-gara menulis, Laptop, Hp, dan kuota internet menjadi lebih bermanfaat. Ya, ini kelihatannya sepele, tetapi bagi saya, jika kita mau merenung sejenak akan menemukan hikmah yang luar biasa, segala sesuatu yang kita miliki, sekecil apapun itu jika kita peruntukkan pada hal-hal yang positif tentu akan bernilai ibadah. Bagi saya ini termasuk cara kita mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Yang biasanya laptop hanya untuk urusan formal ketik-mengetik data sekolah kini menjadi alat untuk berbagi manfaat melalui tulisan-tulisan yang kita hasilkan. Tambah ber-arti bukan? tentunya iya.

Gara-gara menulis, Waktu terasa berjalan begitu cepat, apalagi saat sedang berpuasa seperti saat ini,  waktu yang diisi hal-hal positif terasa lebih bermakna. Di saat tugas sekolah yang harus dikerjakan di rumah jika tidak ada selingan kegiatan tambahan tentu akan sangat membosankan. Dengan menyadari bahwa waktu berjalan dengan cepat, akan menjadi keuntungan tersendiri jika kita mau berfikir. Sehingga timbul pemahaman, sayang sekali apabila kita sampai menyia-nyiakan waktu kita. Waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya, agar lebih bermanfaat. Waktu bagaikan pedang,  jika kita tidak bisa menaklukkannya pasti kita sendiri yang akan tertebas oleh pedang itu, kita merugi.  Menggunakan waktu dengan aktivitas yang positif -seperti membaca dan menulis- juga termasuk cara kita mensyukuri  nikmat usia yang Allah berikan kepada kita.

Ternyata betul,  dengan menulis kita akan menemukan hikmah yang luar biasa. Selain wawasan yang semakin berkembang,  juga mendorong kita menjagi orang yang berfikir.  Ya,  berfikir dalam konteks menggali anugerah yang telah Allah berikan,  mensyukurinya dan berusaha menjadi insan yang lebih baik. 

Alhmdulillah... 
19 mei 2020
Punjul, Karangrejo,  Tulungagung




MENULIS DAN DAKWAH


Subadi


Sebenarnya hari ini, Senin 18 Mei 2020 pagi-pagi saya sudah menyempatkan diri untuk menulis, menulis dalam rangka menggali potensi diri dan tujuan belajar. Alhamdulillah kata demi kata mampu saya rangkai menjadi kalimat, kalimat demi kalimat menjadi paragraf, dari sekian paragraf menjadi satu cerita yang utuh hari ini. Cerita sederhana itu tentang dunia Pesantren, yang sarat akan nilai positif yang dapat kita ambil hikmahnya. Demi menjalani  kehidupan yang lebih baik. 

Di sela-sela aktivitas, sesekali melanjudkan membaca buku baru yang saya miliki. Hari ini buku itu saya baca sudah sampai halamanan 81, semoga bisa segera saya selesaikan dalam waktu dekat, karena 2 buku lagi sedang menunggu untuk saya baca. Ya, buku yang penuh energi positif, sungguh bacaan yang sangat menarik untuk terus dibaca dan diikat maknanya, hingga membekas diotak dan sebisa mungkin saya terapkan di kehidupan sehari-hari. Buku itu buah karya dari Dr. Ngainun Naim, buku Menipu Setan [kita waras di zaman edan],  saya akui buku ini sarat akan nilai-nilai luhur yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari, sangat dekat dengan kita, dan dipastikan bisa kita teladani jika kita mau membuka diri. Buku yang pasti bermanfaat bagi orang-orang yang mau berfikir. Semoga saya juga bisa meneladani spirit yang hendak disampaikan oleh penulis, semoga.

Sehabis shalat Asar, saya berfikir tema apalagi besuk yang musti saya tulis. Saya terus berfikir, saya coba lihat-lihat deretan buku lama yang ada di etalase, saya menemukan buku yang sudah lama saya miliki, buku itu judulnya Kumpulan Materi Khotbah dan Ceramah [ agama islam kebutuhan pokok bagi umat manusia], ya buku inilah yang saya maksud. Buku sederhana yang kaya akan makna dan tuntunan hidup. 

Mulai saya buka-buka kembali, halaman demi halaman, sampailah pada halaman yang membuat mata saya tertuju pada satu paragraf, ada satu rujukan yang diambil oleh pengarangnya, yaitu tentang macam-macam metode dalam berdakwah. Metode itu dikutip dari Muhammad Abdul Aziz al-Khauli, dalam kitabnya Islaahul Wa'zhid Diinii, halaman 18. Bagian ini menarik bagi saya karena ada hubungannya dengan aktivitas menulis yang saat ini sedang saya pelajari, juga teman-teman group Maarif Menulis. Bagi saya ini juga bagian dari motivasi yang layak direnungkan. Muhammad Abdul Aziz al-Khauli menerangkan bahwa ada 5 macam metode dalam berdakwah: 1] al-Kithabah/ceramah atau pidato. 2] ad-Darsu/pelajaran. 3] at-Tamtsil/pertunjukan. 4] al-Uswah Shalihah/keteladanan yang baik. Dan 5] al-Khitabah/penulisan.

Bagi saya, ini sangat menarik dan bisa menjadi motivasi saya dan siapa saja yang hendak menulis.  Menulis satu sisi sebagai proses belajar ternyata di sisi yang lain juga bernilai dakwah. Tentu dengan membuat sebuah karya tulis yang di dalamnya mengandung nilai-nilai positif yang bisa kita teladani, teladan yang tidak hanya bagi penulis tetapi juga bermanfaat bagi sesama. Karya tulis dalam bentuk apapun akan sangat berharga jika dilandasi spirit berdakwah. Baik dalam bentuk buku, artikel, cerpen, jurnal ilmiah dan lain sebagainya.

Hari ini, banyak media yang dapat mendukung cara berdakwah semacam ini, bisa disebar luaskan melalui jejaring internet, blog, facebook, WA group, dan lain-lain. Dengan cara demikian akan banyak orang yang ikut membaca tulisan yang kita hasilkan. Dengan kesungguhan dalam menulis dan dilandasi kejujuran serta semangat berbagi, saya yakin sebuah tulisan akan memiliki makna yang dalam dan dilingkupi energi positif. Bukan berarti harus ada yang tergerak meneladani nilai yang hendak disampaikan sebuah karya. Itu bukan otoritas kita, menggerakkan hati seseorang adalah hak Allah semata. Yang perlu dicamkan adalah dengan menulis berarti kita juga sedang berdakwah. Bukankah berdakwah juga tugas kita sebagi manusia? tentunya, maka dengan menulis kita akan termasuk orang-orang yang menjalankan perintah Allah SWT. Dakwah adalah kewajiban, salah satu caranya adalah dengan menulis.

Landasan bagi setiap individu dalam berdakwah, bisa kita lihat pada firman Allah SWT, Q.S. Lukman ayat 17. Perintah dakwah yang senada dengan ayat itu adalah An-Nisa' ayat 114 serta surat Al-A'raf ayat 199.  Mari kita tengok bersama-sama. Semoga tulisan sederhana ini bisa menyisakan manfaat bagi kita semua. amin.

Punjul, Karangerejo, 18 mei 2020




Dunia Pesantren [Menggali Nilai Luhur]




Subadi

Bagi siapa saja yang pernah menyisihkan sebagian waktu dan usianya hidup di Pesantren akan tahu macam rasa-rasa kehidupan. Pahit, manis, dan asamnya hidup di Pesantren. Kehidupan di Pesantren merupakan miniatur dari kehidupan yang lebih besar dan luas, yaitu masyarakat. Terutama Pesantren salafi, yang masih konsisten menjaga tradisi kuno yang dimilikinya. Tradisi yang diwariskan secara turun temurun mulai dari awal Pesantren muncul di bumi nusantara.

Pesantren adalah pusat studi pengetahuan agama islam yang komplek, hampir semua cabang ilmu agama diajarkan di pesantren. Mulai ilmu al-Quran, al-Hadits, Fikih, Tarikh islam, Perbandingan Madzhab, Usul fikih, Ilmu Alat [Nahwu, Sharaf, Balaghah], Mantik/Logika, Ilmu Falak, dan fan -fan ilmu lainya. 

Kyai
Di Pesantren ada sosok pengasuh sentral yang disebut Kyai. Kyai ini adalah sosok yang menjadi panutan utama di Pesantren yang kedalaman ilmu agamanya sangat memadai. Seoarang Kyai biasanya tidak hanya dijadikan panutan oleh para muridnya saja, tetapi juga menjadi panutan dan rujukan masyarakat secara luas. Seorang Kyai selain orang yang alim dalam bidang agama, biasanya juga mempunyai pengarus sosial yang luas di tengah-tengah masyarakat. Perilaku keseharianya menjadi model bagi murid-muridnya. Ia adalah sosok yang sangat dihormati, disegani, dan berwibawa. Titel Kyai ini biasanya tidak atas sematan pribadi tetapi sematan kehormatan yang diberikan oleh masyarakat. Karena perjuangannya yang besar dalam berdakwah dan perhatiannya terhadap pendidikan agama Islam. Kyai mempunyai jiwa berjuang yang kokoh, harta dan hidupnya secara optimal diperuntukkan demi berdakwah. Seperti membangun Pondok pesantren, Sebagai pusat ilmu dan belajar. Rata-rata Kyai itu mempunyai murid yang tinggal/mukim di Pesanren. Tetapi, biasanya juga ada -banyak- murid yang berasal sari masyarakat sekitar, yang tidak harus mukim di lingkungan pondok. Kesimpuannya, yang termasuk murid di sini adalah semua orang yang menimba ilmu agama kepada Kyai.

santri dan Ustadz
Penyebutan soal murid, yang sudah lazim dan umum bagi orang yang menimba ilmu kepada Kyai di pesantren adalah Santri, baik mukim di Pesantren maupun tidak, semuanya adalah Santri. Santri dalam kesehariannya mempunyai tugas utama, yaitu ngaji. Baik ngaji itu langsung kepada Kyai atau kepada guru ngaji, yang disebut dengan Ustadz. Ustadz ini biasanya berasal dari keluarga Kyai, putra-putinya, kerabatnya, orang alim dari luar pondok, dan sebagian juga dari santri senior yang sudah cukup pengetahuan ilmu agamanya. Biasanya santri yang menjadi ustadz ini atas tunjukan Kyai atau pilihan hasil muasyawarah pengasuh pondok, Ustadz senior dan para putra Kyai. Sebuah keistimewaan tersendiri bagi santri yang ditujuk untuk menjadi Ustadz ini, di Pesantren tidak hanya belajar tetapi juga belajar mengamalkan ilmunya, tentu modal yang baik untuk bekal ketika sudah boyong/ pulang ke kapung halaman.

Karisma Kyai, dan Teladannya
Sosok Kyai ini sangat disegani, karena ilmu dan pengaruhnya yang besar terhadap kehidupan masyarakat, sehingga tidak heran jika sosok ini sangat disegani. Dalam hal penghormatan yang diberikan ini berhenti pada Kyai saja, akan tetapi juga merambah kepada keluarganya, seperti istri Kyai yang dipanggil dengan sebutan Ibu Nyai, yang juga dihormati layaknya Kyai dan anak-anaknya yang disebut Gus dan Ning, juga disegani dan dihormati. Ini adalah sematan penghormatan. Mereka semuanya dihormati terutama oleh para santri yang menimba ilmu di Pesantren.  Penghormatan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena termasuk prasyarat bagi santri yang ingin mendapatkan ilmu yang barokah dan lebih bermanfaat. Pemahaman ini juga termasuk bagian penting dalam kerangka thalabul ilmi/menuntut ilmu. Bagi santri menghormati Kyai dan keluarganya adalah sikap dan tindakan yang musti dikedepankan, juga kepada para Ustadz di pesantren. Terkait dengan etika Santri kepada Kyai ini banyak diterangkan di kitab yang biasanya selalu dikaji bagi siapa saja yang pernah Nyantri. Kitab itu adalah Ta'limu al-Muta'alaim, karya Azzarnuji, dan juga kitab Adabu al-Alim wa al-Mutaalim, karya Hasyim Asy'ari dan kitab-kitab adab/etika belajar lainnya. 

Kyai adalah sosok yang tidak diragukan lagi soal konsistensinya dalam mengajar ilmu agama kepada santrinya. Sebagian besar waktu yang dimiliki dicurahkan untuk menggelar pengetahuan agama. Pagi, siang dan malam waktunya kebanyakan hanya untuk  mengajar dan berdakwah. Spirit yang dimiliki Kyai untuk berdakwah begitu besar. Ke-isitiqamahan-nya dalam mengajar patut diteladani, jarang meninggalkan waktu mengajar yang sudah terjadwalkan, kecuali ada hal yang menghalangi, seperti sakit, atau ada urusan yang tidak bisa diwakilkan. Konsistensi ini, bukan hanya soal mengajar saja, tetapi juga dalam urusan ibadah, baik itu shalat wajib, maupun ibadah sunnah. Terutama selalu dikerjakan secara berjamaah, yang kita sebenarnya sudah tahu akan keutamaan shalat berjamaah ini, meskipun demikian melaksanakannya tidak semudah yang kita bayangkan, butuh komitmen yang kuat. Kyai juga termasuk orang yang ahli tirakat, seperti puasa sunnah, menyedikitkan tidur, memperbanyak munajat dan zikir. Kyai lekat dengan sifat-sifat mulia, seperti wara', sabar, jujur, amanah, istiqamah, dan sifat-sifat mulia lainnya. sehingga dari sini banyak nilai-nilai yang bisa kita contoh untuk kehidupan sehari-hari. Kita tidak boleh hanya melihat sisi keberhasilannya saja, yang musti kita lihat adalah proses yang telah dijalani hingga mengantarkannya menjadi orang yang alim dan bentuk keberhasilan yang lain.

Etika dan ahklak yang terpancar dari prilaku hidupnya patut dicontoh. Banyak hal yang bisa dijadikan teladan dari cara berbicaranya, bertindaknya dan cara bergaulnya. Semua sikap yang ditampakkan itu, hemat saya semata-mata pancaran dari ilmu yang dimilikinya. Apapun yang dikerjakan semua berlandaskan pada ilmu, sesuai tatanan nilai agama dan masyarakat. Kyai tidak banyak bicara, jika berbicara selalu jernih jauh dari menggunjing sesama. Hanya mengatakan yang penting-penting saja, bicara seperlunya. Meskipun demikian bukan berarti kyai tidak mampu berbicara dengan baik, rata-rata Kyai adalah orang yang kaya akan kemampuan berbahasa dan bertutur kata, setiap kyai mempunyai ke-khasan-nya sendiri-sendiri dalam berbahasa, Kyai mahir dalam menyampaikan pengajian panjang dan juga mempunyai jiwa humoris. Murah senyum dan berwibawa. 

Jarang sekali -bahkan tidak pernah- kita jumpai Kyai yang dalam berpakaian mengumbar aurat. Ia selalu memakai pakain yang bersih, wangi dan enak untuk dipandang. ini adalah contoh yang musti diteladani. Ya, berpakaian rapi, bersih dan menutup aurat. Cara berpakian yang baik sesuai norma ini merupakan bentuk syukur kita kepada Allah. Menyukuri nikmat badan yang sehat, dan juga sebagai cara kita menjaga kehormatan diri. Berpaian yang baik ini, musti kita tanamkan kepada anak-anak kita mulai sejak dini, terutama lagi bagi anak perempuan. Banyak kejahatan seksual yang terjadi terhadap wanita karena cara berpakaian yang tidak sopan dan senonoh. Berpakain yang yang melihatkan likuk-likut bentuk tubuh bisa mendorong timbulnya kejahatan seksual. Oleh karena itu, kita bisa melihat dunia pesantren dalam hal praktik berpakaian, baik itu cara berpakaian yang dicontohkan oleh Kyai, keluarganya, dan para santri. Semuanya menampilkan cara berpakaian yang rapi, bersih dan menutup aurat secara baik dan benar. Sesuai tata norma dan tuntunan agama.  Berpakain yang baik juga juga termasuk bagian dari cara menjaga kehormatan diri.

Kebiasaan lain dari Kyai yang musti kita renungkan adalah cara Ia makan. Jarang sekali kita ketemukan sosok Kyai yang porsi makannya banyak apalagi berlebihan. Kyai menggunakan makan sebagai bentuk syukur atas jasad yang telah diberikan oleh Allah. Makan secukupnya merupakan cara mensyukuri nikmat tubuh yang sempurna. Dengan makan yang cukup akan menghasilkan energi bagi tuhuh, energi yang musti dipergunkan untuk ibadah. Bukan untuk maksiat dan hal-hal menyimpang lainnya. Makan di sini adalah makan untuk hidup, bukan sebaliknya. Makan demi menghimpun tenaga untuk ibadah. Makan yang berlebihan juga akan berakibat buruk terhadap kesehatan, karena rata-rata penyakit yang timbul berangkat dari pola makan yang berlebihan. Dan sifat berlebihan itu tentu bukan fitrah manusia, berlebihan adalah sifat yang akrab dengan prilaku setan. Contoh akibat makan yang berlebihan bisa menimbulkan kolesterol, diabet, dan sebagianya. Oleh karena itu, demi menjaga kesehatan tubuh, makanlah secukupnya, barengi dengan niat dan doa yang benar. Cari ini layak kita teladani demi menjaga kesehatan dan ketenangan dalam beribadah.  

Model Belajar Santri
Sistem belajar yang bersifat klasik ini, masih bertahan hingga kini, ngaji madrasah diniyah, sorogan, bandongan, ngaji pasan, hafalan, dan Syawir. Waktu yang ada diprioritaskan dengan kegiatan mengaji/belajar. Setiap selesai shalat lima waktu selalu ada kegiatan belajar, yang dibimbing oleh seorang Ustadz/Guru. Dalam proses bembelajarannya metode yang digunakan adalah "semaan dan maknani", ialah seorang ustadz membacakan kitab yang dikaji dengan membacakan teks kitab sembari memberikan makna perkata dan dicatat oleh santri. Dengan sesekali Ustadz menjelaskan point-point pembahasan dan maksud dari materi kitab yang diajarkan. Proses belajar seperti ini, membutuhkan kejelian, kecerdasan akan ilmu yang menyetainya, ialah ilmu alat - nahwu dan shor0f-, tanpa penguasaan ilmu ini mustahil seorang ustadz akan mampu menyampaikan pengajarannya dengan baik. Karena kitab-kitab yang diajarkan rata-rata -bahkan semuanya- berbahasa arab. Tanpa menguasai nahwu-sharaf kayaknya mustahil akan bisa mengajar dengan baik.

Sekolah santri salaf adalah madrasah, tingkatan madrasah ini di mulai dari bangku Ibtida' 6 tahun, Tsanawi 3 tahun, dan Ulya 3 tahun. Waktu untuk belajar di madrasah biasanya setelah shalat magrib hingga masuk waktu isya', atau lebih sedikit. Waktu sekolah di madrasah tidaklah baku, tergantung setiap Pesantren mengaturnya. Pun demikian dengan kurikulumnya, setiap pesantren tentu tidak akan sama, menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan santri dan karakteristik  pesantren pesantren itu sendiri.

Menuntut ilmu agama di Pesantren jika dilandasi dengan kegigihan dan ketekunan, dapat dimungkinkan mencapai hasil yang maksimal. Karena kajian ilmu agama yang digelar tidak hanya sebatas ngaji di madrasah saja. Tetapi banyak waktu yang bisa diikuti oleh setiap santiri. Umpamanya, setelah subuh mengaji kitab tafsir al-Quran, kemuadian disusul dengan kegiatan sorogan al-Quran. Pada waktu Dhuha biasanya masih ada kegiatan mengaji kitab yang lain. Setelah Dhuhur pasti juga ada kegiatan ngaji lagi, baik yang membacakan kitab langsung oleh Kyai atau ustadz yang lain. Masuk waktu Asar, setelah sholat mengaji lagi, bisa bermacam-macam jenis kitab yang diajarkan, bisa fan fikih, aklak, dan lain-lain. Kemudian setelah sholat Isya pasti selalu ada kegiatan mengaji lagi dengan kitab yang berbeda dengan sebelumnya. Kemuadian ada sebagian waktu yang disisihkan untuk kegiatan hafalan, lalaran, syawir/mushawarah ilmu, dan lain-lain. Sungguh kesempatan yang luar biasa bermanfaat jika mampu mengikuti dengan ketekunan dan disiplin. Masa-masa yang istimewa, kiranya hanya akan dijumpai di pesantren saja.

Sungguh, jika kesempatan yang dimiliki oleh santri itu digunakan dengan sebaik-baiknya pasti akan banyak memberi manfaat. Bisa mengantarkan menjadi orang yang alim akan ilmu-ilmu agama. Nah. kebiasaan yang seperti itu, jika sudah pulang kampung, seharusnya tidak ditinggalkan begitu saja, meskipun sudah pulang kampung musti tetap membiasakan belajar sesuai kapasitas waktu dan kesempatan yang dimiliki. Sukur-sukur bisa mengajarkan ilmunya kepada sesama. Sebagai wujud ilmu yang bermanfaat.

Senin, 18 Mei 2020

LEBARAN DAN ANGPAO [Semangat Berbagi]

SUBADI Entah mulai kapan, budaya bagi-bagi angpao saat hari raya Idul Fitri ini dimulai. Seingat saya, setiap kali lebaran, tra...